Sesungguhnya ada dua keuntungan yang akan diperoleh seseorang manakala ia melakukan amal ibadah, baik ibadah mahdhah maupun amal ibadah mu'amalah. Dua keuntungan itu adalah pertama berupa pahala dan yang kedua adalah keuntungan-keuntungan yang bersifat duniawi.
Keuntungan berupa pahala akan mengantarkan seseorang bisa menggapai surga yang abadi, sedangkan keuntungan dunia bisa saja berupa materi. Keuntungan pertama baru akan diberikan Allah manakala manusia sudah memasuki kehidupan akhirat, sementara keuntungan yang kedua akan diberikan Allah secara lanhsung di dunia.
Keuntungan pertama, karena tidak bisa diberikan langsung, maka banyak manusia yang mengabaikannya. Sementara keuntungan kedua banyak manusia yang menginginkannya, namun mereka kadang juga enggan melaksanakan ibadah.
Sesungguhnya secara teori, manakala manusia melaksanakan amal ibadah hanya kepada Allah, maka dua keuntungan sebagaimana diatas diraih secara bersamaan, sebab secara umum amal ibadah dalam bentuk apapun mengandung dua keuntungan tersebut.
Pada ibadah mahdhah, misalnya kita ambil salah satu contohnya yaitu shalat. Saat seseorang sedang melaksanakan shalat, maka sesungguhnya ia bukan saja akan mendapatkan pahala shalat namun lebih dari itu ia akan mendapatkan keuntungan-keuntungan yang bisa ditukar dengan keuntungan materi.
Dengan shalat, secara sadar atau tidak seseorang akan memperoleh kesehatan, dengan shalat seseorang akan mendapatkan limpahan rezeki, dan dengan shalat seseorang akan mendapatkan ketenangan jiwa.
Sekilas shalat seperti tidak ada hubungannya dengan masalah kesehatan. Namun, jika dilihat secara seksama ternyata shalat punya pengaruh positif yang sangat besar terhadap kesehatan.
Hal ini setidak-tidaknya bisa dilihat dari dua sudut. Pertama. dari gerakan shalat itu sendiri, dan yang kedua dari sisi ketenangan batinyang diperoleh oleh seseorang ketika ia menjalankan shalat dengan perasaan yang khusyu'.
Secara ringkas dapat dijelaskan bahwa gerakan yang ada dalam shalat menyerupai gerakan senam olahraga. Jika dikaji dari segi ilmu kesehatan ternyata semua gerakan yang ada dalam shalat mengandung manfaat tersendiri bagi kesehatan manusia.
Dari sini saja dapat disimpulkan bahwa shalat punya kekuatan untuk penyembuhan terhadap penyakit-penyakit fisik.
Selain pada gerakan, kekuatan shalat untuk penyembuhan bisa juga dilihat dari sgi isi dalamnya. Shalat sesungguhnya bisa membuat ketentraman jiwa dan ketenangan batin, maka dengan modal itu manusia tidak akan mudah terserang penyakit.
Bukankah banyaknya penyakit yang diakibatkan oleh rasa stres dan kurang tentramnya pikiran? Dari sini maka bisa dipastikan bahwa seseorang yang sungguh-sungguh memperhatikan perintah shalat, mereka akan mendapatkan jaminan, bahwa secara fisik maupun mental kesehatan mereka selalu terjaga.
Tidak hanya mendapatkan jaminan kesehatan shalat juga bisa memberikan jaminan terhadap masalah kebutuhan ekonomi seseorang, disamping akan mendapatkan pahala dari Allah. Contoh nyata dalam hal ini adalah adanya anjuran untuk melaksanakan shalat dhuha. Dalam sebuah hadits qudsi Allah berfirman: "Allah 'Azza Wajalla berfirman, "Wahai anak adam, jangan sekali-kali engkau malas mengerjakan empat raka'at dalam permulaan siang (yakni shalat dhuha), nanti akan aku cukupi kebutuhanmu pada sore harinya".(HR. Al Hakim dan Thabrani).
Lewat hadits qudsi sebagaimana diatas Allah berjanji kepada manusia bahwa dia akan memberi kecukupan dalam hal rezeki kepada manusia yang mau melakukan shalat dhuha di pagi hari.
Allah akan menganugerahkan karunia rezekinya bagi umat nabi muhammad yang di pagi hari, saat akan berangkat kerja, atau saat istirahat kerja mau menyempatkan diri sejenak untuk menghadap Allah dengan melaksanakan shalat dhuha.
Kesimpulannya adalah bahwa amal ibadah yang dilakukan manusia akan membuahkan hikmah disamping akan menjamin kehidupan bahagia di akhiratkelak. Mnusia akan mempeoleh dua keuntungan sekaligus bila ia melakukan amal ibadah, yakni pahala (surga) dan keuntungan materi di dunia. Ini pasti dan itulah teori yang sudah ditetapkan pleh Allah.
Akan tetapi, yang menjadi persoalan besar sekarang adalah mengapa banyak manusia tidak bisa memperoleh hikmah dari amal ibadah yang mereka lakukan? Mengapa banyak manusia sudah melaksanakan shalat namun hikmah kesehatan dan keuntungan ekonomi tidak bisa mereka capai? Mengapa banyak diantara mereka yang sudah melaksanakan amal ibadah namun sepertinya mereka tidak ada peningkatan sama sekali?
Jawaban dari pertanyaan besar ini ternyata adalah terletak pada keikhlasan hati seseorang. Banyak diantara manusia-manusia yang sudah melaksanakan ibadah, namun karena mereka kurang ikhlas dalam pelaksanaannya, maka hikmah dari ibadah itupun tidak bisa mereka capai.
Jadinya mereka tetap kurang sehat secara jasmani meskipun mereka melaksanakan shalat berkali-kali. Merekapun tetap menderita secara batin meskipun setiap hari mereka bersujud kepada Allah dalam shalat. Mereka juga tetap dalam jeratan-jeratan kemiskinan meskipun setiap pagi mereka melaksanakan shalat dhuha.
Sesungguhnya semua apa yang diinginkan oleh manusia bisa saja tercapai jika saja manusia mau menjalani amal ibadah itu dengan perasaan ikhlas yang hanya karena Allah, dan bukan yang lain. Jadi, semua apa yang dibutuhkan oleh manusiasebagai makhluk hidup, dari hal-hal yang bersifat materi maupun non materi semuanya bisa tercukupi dengan sendirinya seandainya mereka menjalani apa yang diperintahkan Allah dengan perasaan tulus dan ikhlas.
Satu hal yang harus diketahui dan sekaligus diyakini betul adalah bahwa semua amal ibadah pasti mempunyai hikmah lain selain berbuah pahala surga. Dan ingat pula bahwa hikmah-hikmah yang terdapat dalam amal ibadah itu baru bisa digapai oleh manusia manakala mereka menjalani amal ibadah tersebut dengan berhiaskan ikhlas. Hanya ini yang bisa mewujudkan hikmah dalam ibadah.
Maka jangan sekali-kali mengharap turunnya hikmah ibadah jika dalam pelaksanaan amal tersebut kita tidak bisa ikhlas karenanya. Jadi kesimpulannya seseorang bisa saja menjadi kaya raya jika ia bisa ikhlas dalam ibadahnya. Seseorang bisa bahagia di dunia jika ia bisa ikhlas dalam amal kebajikannnya.
Demikian juga seseorang bisa selalu menemukan keberuntungan, hidupnya terasa selalu menemukan kemudahan dan sebagainya jika ia bisa tulus dan ikhlas saat menghadap Allah untuk bertaqarrub kepadanya.
Sungguh ini bukanlah omong kosong atau hanya sekedar teori belaka tanpa adanya bukti-bukti empirik yang nyata. Berkali-kali Allah maupun Rasulnya menyampaikan tentang kabar bahwa amal ibadah yang dilakukan oleh manusia akan menjamin semua yang dibutuhkan mereka dalam hidup. Sekarang coba lihatlah beberapa keterangan berikut ini. Dalam sebuah hadits Nabi bersabda: "Di malam isra'ku ke langit, Allah berpesan lima hal kepadaku; (1) Janganlah hatimu terlalu melekat terhadap dunia, sebab dunia diciptakan bukan untukmu (bukan untuk dipakai bersenang-senang), (2) Jadikan cintamu hanya kepadaku, sebab kembalimu kelak adalah kepadaku, (3) Bersungguh-sungguhlah dalam mencari surga, (4) Hentikan berharapmu dari sesama makhluk, sebab mereka sama sekali tidak mempunyai kemampuan, (5) Terus-meneruslah melaksanakan shalat malam (tahajjud), sebab datangnya pertolongan disertai dengan shalat malam".
Hadits diatas menjelaskan bahwa diantara hikmah yang terdapat dalam shalat tahajjud adalah akan mendatangkan pertolongan Allah. Itu artinya pertolongan Allah pasti akan diturunkan kepada seseorang manakala ia mau melaksanakan shalat tahajjud. Apalagi keistimewaan shalat tahajjud itu dilaksanakn pada waktu tengah malam, yang suasananya sangat hening dan sepi, sehingga kita mudah sekali khusyu' untuk memanjatkan segala permohonan kepada sang khalik.
Siapapun manusia yang mendapatkan kesulitan dalam hal apa saja, maka semua itu bisa dicari pemecahannya lewat shalat tahajjud. Pertanyaannya lagi adalah, mengapa banyak orang sudah melaksanakan shalat tahajjud namun sepertinya mereka belum mendapatkan pertolongan Allah.
Mengapa mereka masih diliputi banyak masalah padahal mereka sudah meminta pertolongan Allah lewat tahajjud? Jawaban dari pertanyaan ini sama, yakni karena shalat tahajjud yang mereka lakukan itu masih kurang ikhlas.
Karena tidak ikhlas, maka shalat tahajjud yang mereka lakukan tidak diterima Allah, maka bagaimana mungkin mereka mendapatkan pertolongannya? Andai saja mereka ikhlas dan tulus dalam melaksanakan tahajjud, maka pasti mereka akan mendapatkan pertolongan. Sebab hal tersebut sudah merupakan janji Allah sendiri. Dalam QS.Al-an'am:33, Allah berfirman yang artinya: "Dan Allah sekali-kali tidak akan mengadzab mereka, sedang kamu (Muhammad) berada diantara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengadzab mereka, sedang mereka selalu beristighfar".
Secara tersirat ayat diatas menjelaskan bahwa oarang-orang yang selalu berdzikir dengan beristighfar memohon ampunan Allah akan menjadi penghalang turunnya adzab Allah di bumi ini. Lewat ayat diatas juga Allah ingin memberitahukan kepada seluruh umat manusia bahwa dengan beristighfar seseorang akan diselamatkan oleh Allah dari segala marabahaya.
Dengan demikian, bisa dipastikan bahwa siapapun yang banyak membaca istighfar, memohon ampunan Allah maka pasti orang tersebut akan diselamatkan dari segala hal yang membahayakan.
Sekali lagi, pertanyaannya adalah mengapa banyak orang sudah membaca istighfar, meminta ampunan Allah namun mereka seperti selalu menemukan kesialan? Mengapa mereka masih malah sering tertimpa musibah dan tidak selamat dari bahaya?
Lagi-lagi jawabannya adalah mungkin hal itu karena mereka kurang bisa ikhlas kala bibir mereka membaca istighfar. Mulut mereka memang memohon ampun kepada Allah, namun mungkin hatinya kurang murni. Dan mungkin karena inilah mengapa istighfar yang mereka baca tidak memberikan bekas sama sekali dan tidak bisa menyelamatkannya dari segala bahaya.
Dari kenyataan-kenyataan sebagaimana tersebut diatas, kesimpulannya jelas yakni semuanya tergantung pada niat ikhlas dalam hati dalam menjalankan perintah Allah. Meski substansi dari amal ibadah itu sendiri akan memberikan pengaruh positif pada seseorang, namun jika amal ibadah itu tidak dilandasi dengan ikhlas, maka semuanya percuma tiada guna.
Dan mesti semua amal itu ada hikmah yang tersembunyi dibaliknya, maka ketahuilah bahwa hikmah itupun baru akan bisa digapai jika amal ibadah tersebut dilakukan dengan ikhlas. Maka berikhlaslah dalam setiap amal ibadah agar selalu apa yang anda butuhkan dalam hidup akan dicukupi oleh Allah. Berikhlaslah dalam setiap kebajikan sebab hanya dengan itu anda akan memperoleh hikmah dari ibadah yang anda jalani.